Kamis, 27 Desember 2012

“Kami Menunggu Pengumuman Resmi Runtuhnya Rezim Suriah”



Kamis, 19 Juli 2012 

BANYAK perubahan telah terjadi di Suriah saat ini bila dibandingkan dengan kondisi awal revolusi. Pertempuran semakin sengit terjadi antara rakyat Sunni Suriah yang pro revolusi dengan kelompok minoritas Syiah Nushairiyah yang merupakan pilar rezim otoriter Suriah.

Revolusi telah menyatukan visi sekaligus arah perjuangan rakyat Suriah: menjatuhkan rezim Nushairiyah. Revolusi juga berhasil membangkitkan kembali semangat serta vitalitas rakyat yang selama ini dikebiri oleh rezim.

Untuk mengetahui perkembangan mutakhir sekaligus proyeksi masa depan revolusi, Majalah Internasional Al Bayan, melakukan wawancara khusus dengan salah seorang anggota Dewan Pimpinan Politik di Majelis Qiyadah al Tsawrah al Suriyah (Dewan Pimpinan Revolusi Suriah), Rami Dalati. Berikut ini petikannya;
Al Bayan: Semakin banyak aparat militer Suriah yang desersi dan membelot ke barisan pro revolusi. Apakah fenomena tersebut karena aparat militer itu sadar bahwa kekuatan militer rezim Suriah sebentar lagi akan jatuh, atau ada faktor lain?


Gerakan desersi dan pembelotan yang semakin meluas secara umum merupakan dampak dari semakin rapuhnya institusi keamanan dan militer rezim. Fenomena tersebut semakin jelas tampak pada semakin sulitnya mendeteksi jumlah tentara yang desersi atau membelot, baik itu tentara biasa atau perwira tinggi. Hal ini turut memberi saham terhadap semakin meluasnya fenomena tersebut. 


Rezim tidak mampu membunuh ribuan keluarga dari tentara yang membelot. Itulah alasan sehingga fenomena desersi dan membelot akhirnya terjadi juga pada sayap militer yang dianggap paling loyal, yaitu angkatan udara. Kita tahu bahwa rezim berusaha keras untuk menjaga sayap militer ini.
Peristiwa larinya tujuh orang dari pilot angkatan udara menggambarkan secara jelas kekalutan yang menimpa perwira tinggi ring satu. Fenomena yang kelihatan akhir-akhir ini, desersi yang dilakukan oleh perwira-perwira tingkat tinggi.


Ditambah lagi bahwa pasukan pembebasan pro revolusi telah berhasil memperluas wilayah mereka. Fakta ini mendorong semakin banyaknya militer rezim yang desersi. Sebab mereka merasa kondisi semakin aman.

Tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa pendukung revolusi telah berhasil mengkavling wilayah mereka sendiri yang indipenden. Kita juga tidak boleh lupa penerimaan secara sosial di masyarakat bagi militer yang membelot. Penerimaan yang membangkitkan keberanian dalam diri mereka, sebab tampil sebagai pahlawan yang menolak untuk membunuh bangsa mereka sendiri.

Al Bayan: Bagaimana proyeksi anda terhadap masa depan politik di Suriah dengan keberagaman agama yang ada di dalamnya?

Kelompok minoritas agama telah hidup sejak ratusan tahun silam di Suriah, tanpa diskriminasi. Di bawah pemerintahan Islam, mereka menikmati kebebasan yang besar. Politik Islam dalam periode yang panjang itu tidak mengganggu kehidupan mereka. Hal ini bertolak dari firman Allah: Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." (Terj. QS. al-Kahfi/18: 29)

Mungkin itulah sebabnya sehingga keberadaan mereka berlangsung hingga saat ini. Sepanjang sejarah, kami tidak mengenal adanya perang antaragama, sebagaimana terjadi pada bangsa lain.

Adapun isu yang mengkhawatirkan mereka, itu berasal dari media milik rezim. Padahal, tidak satupun tokoh agama yang diterima secara luas, dari berbagai kelompok yang ada, yang mengatakan seperti itu. 

Bangsa Suriah secara kultur hidup berdampingan dengan pemeluk agama yang lain, tanpa benturan dan konflik berarti. Kota-kota dan distrik di Suriah berbaur dengan pemukiman pemeluk agama yang lain.

Al Bayan: Banyak pihak bertaruh bahwa jatuhnya rezim Suriah akan berdampak positif bagi persoalan Palestina. Apakah menurut anda pasca revolusi Suriah akan berkontribusi besar secara positif bagi persoalan Palestina? Atau, sikap Suriah akan tetap bergantung pada sikap publik dunia?

Kampanye rezim Suriah yang mengklaim keberpihakan terhadap kepentingan Palestina adalah propaganda palsu. Hal itu jelas bagi siapapun yang mampu melihat dan menganalisis dengan baik kondisi politik yang ada. Semua tahu penderitaan yang dialami bangsa Palestina serta sejarah gerakan perlawanan mereka. Kasus Mukhayam Til al Za’tar dan al Badawi masih segar dalam benak kita. Mayoritas pejuang perlawanan Palestina dibunuh dan diusir dari Libanon.  

Rezim Suriah tidak membiarkan gerakan perlawanan Palestina untuk melepaskan satu peluru pun ke wilayah Palestina yang diduduki Israel. Padalah wilayah tersebut sangat tinggi kelihatan dari arah dataran tinggi Golan kami.

Tidaklah rezim Suriah menampung gerakan perlawanan Palestina kecuali untuk mengeksploitasi mereka. Menjadikan mereka sebagai alat untuk menciptakan ketakutan terhadap publik dunia.

Klaim politik rezim Suriah sebagai pemerintahan yang indipenden tidak lebih merupakan komoditas politik, sebagai kamuflase bagi sebagian orang awam di dunia Arab. Rezim Suriah pintar memainkan peran tersebut untuk beberapa waktu, di tengah pemerintahan-pemerintahan Arab yang lemah di depan Barat.

Oleh karena itu, jatuhnya rezim akan berdampak secara signifikan dan positif bagi persoalan Palestina. Persoalan Palestina mengikat secara emosional semua orang Suriah. Fakta bahwa Israel telat dan ragu menentukan sikap terhadap rezim merupakan bukti keyakinan Israel yang bulat, bahwa kepentingannya terancam oleh jatuhnya penjaga perbatasannya yang setia. Penjaga yang tidak pernah melepaskan satu pun peluru untuk membebaskan dataran tinggi Golannya yang diduduki Israel. Kendati posisi Golan yang strategis bagi Suriah.

Sejujurnya, kami pikir persoalan Palestina mungkin tidak masuk sebagai prioritas utama pada fase Suriah berikutnya. Sebab pemerintahan yang akan datang akan mewarisi sebuah negara yang lemah secara militer dan infrastruktur secara umum.

Adapun sikap politik terhadap persoalan Palestina, saya yakin bahwa Palestina mengikat emosi setiap pribadi muslim. Bagi kami, pembebasan Suriah tidak lebih penting daripada pembebasan Palestina. Tidak seorang pun tokoh politik, bagaimanapun bodohnya, akan abai terhadap masalah Palestina.

Al Bayan: Berapa lama lagi usia rezim menurut perhitungan kelompok revolusi Suriah?

Semenjak kami memproklamasikan revolusi kami, kami paham betul kompleksitas dan tingkat krusial persoalan kami. Kami mampu memprediksi beratnya tantangan yang akan kami hadapi. Kami punya pengalaman yang lama dengan rezim.

Rezim yang otoriter ini sama sekali tidak paham bahasa tuntutan damai. Rezim tahunya cuma bahasa kekerasan. Kita semua menyaksikan bahwa perang kami terhadap rezim adalah perang terbuka, sesuai dengan konstalasi politik internasional yang ada.

Tapi kami yakin bahwa saat ini, berdasarkan informasi faktual, bahwa rezim Suriah sedang berada di atas ranjang kematiannya. Dia kini hidup dengan “alat bantu pernafasan oksigen” yang diberikan oleh Rusia dan Iran. Rezim telah kehilangan semua faktor kehidupan. Dia kehilangan dukungan rakyat dan masyarakat internasional. Institusi keamanan yang dia miliki telah goyah. Tentara rezim telah kehabisan energi. Ekonomi dan media rezim limbung.

Lantaran itu, kami yakin bahwa kami sedang menunggu pengumuman tewasnya rezim. Tidak ada yang lain dari itu. 

Al Bayan: Benarkan ada komponen dari mujahidin Arab yang turut berperang melawan rezim Alawiyin/Nushairiyah Suriah?

Revolusi Suriah telah membuktikan pada kami bahwa Syam, dalam pengertiannya yang luas, ada dalam hari setiap muslim. Revolusi membuktikan bahwa bangsa-bangsa Arab adalah bangsa yang hidup. Di tengah banyaknya upaya untuk meyakinkan mereka bahwa mereka adalah bangsa yang hina.

Umat Islam telah membuktikan kebersamaan dan solidaritas mereka pada kami, dengan segala apa yang mereka miliki. Andai bukan karena pemerintahan-pemerintahan yang lemah, niscaya umat ini akan menunjukkan partisipasi yang lebih besar terhadap persoalan Suriah. Pemerintahan  umat terikat dengan sikap dunia. Mereka tidak indipenden dari pihak-pihak yang mendikte mereka.

Revolusi Syam akan menang, walaupun dengan segala sikap diam yang ditunjukkan. Hal itu merupakan bukti kebenaran hadits Rasulullah shallalahu alaihi wasallam dalam sabda beliau tentang penduduk Syam: “Tidak berbahaya bagi mereka sikap orang-orang yang meninggalkan atau menyelisihi mereka.”

Sikap kami terhadap negara-negara yang terlambat memberi dukungan, kami sampaikan bahwa sejarah tidak akan mengasihi siapa pun. Gerbong kesadaran revolusi telah berjalan, dan tidak seorang pun yang akan luput.

Al Bayan: Apa sikap anda terhadap sebagian negara Arab yang meremehkan revolusi?

Sesungguhnya revolusi Suriah adalah revolusi rakyat yang bangkit melawan korupsi, intimidasi dan represi. Revolusi yang memperjuangkan terwujudnya kemerdekaan, keadilan dan pemerintahan yang baik. Islam merupakan faktor utama yang membentuk konstruk sosial masyarakat Suriah. Olehnya, sepanjang sejarahnya, kelompok aktivis Islam mendapatkan bagian paling besar dari kekejaman rezim.  

Karena itu, tidak aneh bila aktivis Islam menjadi ujung tombak rakyat melawan rezim untuk memperjuangkan hak-haknya. Faktanya, Suriah terdiri dari kelompok pemikiran yang beragam. Bahkan dari sudut pandang syariat: Salafiy, Sufiyah, dan Al Ikhwan al Muslimun.

Yang terlibat di Suriah saat ini adalah sebagian besar kelompok yang ada. Ikhwanul Muslimin merupakan kelompok yang paling tersebar luas. Kita tidak boleh lupa penderitaan mereka sepanjang sejarahnya bersama dengan rezim. Ikhwan bahkan menjadi semacam cacat dalam sejarah rezim.

Dalam beberapa tahun terakhir, tuduhan Salafiyah merupakan stigma bagi setiap aktivis Muslim yang concern terhadap Sunnah dan ilmunya. Itu sebabnya, keterlibatan pengikut Salafy punya alasan. Kita juga tidak lupa sejarah jihad yang cemerlang kelompok Salafy. Itulah yang membakar semangat pemuda hari ini.

Adapun mereka yang meninggalkan revolusi, dari ulama rezim dan pengikutnya, tidak mewakili kelompok pemikiran tertentu. Mereka mewakili pribadi mereka, sehingga mempertanggungjawabkan kesalahan mereka pribadi.

Al Bayan: Bagaimana proyeksi anda terhadap sistem pemerintahan Suriah pasca revolusi?

Kami yakin bahwa rakyat Suriah akan membentuk sistem pemerintahan mereka, baik itu secara politik, ekonomi maupun sosial, selaras dengan kondisi riil yang khas di Suriah dengan pluralitas masyarakatnya. Tapi kami yakin bahwa pemerintahan tersebut akan menjadi pemerintahan yang adil dan bijaksana, dan setiap individu akan mendapatkan haknya. Suriah akan sejalan dengan aspirasi mayoritas yang telah berkorban paling banyak.

Dalam bidang ekonomi kami yakin bahwa pelaku bisnis asal Suriah yang kini berada di luar negeri akan kembali ke Suriah dengan investasi. Hal ini tentu akan berdampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ekonomi akan dikemas secara adil dan merata dengan perencanaan pembangunan yang berdasarkan pada teknologi informasi.

Kami yakin bahwa kami mampu melewati fase kehancuran yang telah menimpa Suriah. Karena kami punya keinginan dan prinsip melewati itu semua. Suriah ke depan akan menjadi pemersatu bagi setiap orang Suriah. Tidak akan ada separasi sebagaimana klaim sebagian pihak.

Al Bayan: Apakah menurut anda bahwa penembakan rezim Suriah terhadap pesawat Turki di kawasan laut internasional merupakan pintu menuju perundingan bilateral untuk menemukan penyelesaian damai terhadap krisis? Atau Turki sengaja mengirim pesawatnya untuk menjebak Suriah berperang melawan Nato, dimana Turki sebagai salah satu anggotanya?

Ada dua penjelasan tentang kasus penembakan rezim Suriah terhadap pesawat Turki. Pertama, rezim telah mengalami “rabun politik” menyusul desersi pilot pesawat militernya ke Urdun. Rezim merasa bahwa sayap militernya yang terkuat, sesuai dengan klaimnya, telah goyah. Sehingga rezim menembak secara serampangan, tanpa mempertimbangkan lagi akibatnya. Lantaran itu rezim memilih jalan yang tidak mungkin lagi dia mundur, yaitu jalan Qhadafi. Pilihan ini menunjukkan bahwa rezim telah kehilangan pertimbangan secara militer dan psikologis.

Kedua, bahwa sesungguhnya rezim mampu mempermainkan kartu dan menjebak kawasan dalam perang yang luas, yang potensial melibatkan intervensi dunia. Yaitu dengan memancing agar Turki membalas karena martabatnya yang diinjak-injak. Kondisi yang tentunya tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Iran yang merupakan pendukung setia Suriah.

Bila itu terjadi, Amerika Serikat akan berdiri di samping aliansinya Turki, apalagi dengan ketegangan hubungannya selama ini dengan Iran.

Kita tentu tidak berpikir bahwa Rusia akan berpangku tangan begitu saja melihat perkembangan yang terjadi dengan perbatasannya bagian selatan.

Semua skenario ini menjadikan publik dunia berhitung beberapa kali sebelum terlibat dalam situasi yang ada. Inilah pesan yang dikirimkan oleh Rusia dan Iran. Rezim Suriah tidak lebih merupakan eksekutor. Tidak lebih dari itu.*

http://hidayatullah.com/read/23768/19/07/2012/%E2%80%9Ckami-menunggu-pengumuman-resmi-runtuhnya-rezim-suriah%E2%80%9D.html

0 comments:

Poskan Komentar