This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Kultwit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kultwit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Januari 2013

Aku Tidak Nakal dan Tidak Bodoh, Bunda

 Di salah satu sudut ruangan seorang gadis kecil duduk sambil menangis sendu. Aku mendekati dirinya, namun si kecil ini tetap menangis. Ku ulurkan tanganku meraih tangan mungilnya. Dia menatapku, bola matanya yang penuh keluguan seolah mengisyaratkan berjuta cerita, cinta dan penuh misteri. Aku membalas tatapan wajah itu dengan sebuah senyuman, aku meraihnya dan memeluknya.
“Gadis kecil kenapa kau menangis?”
Dia tetap membisu yang terdengar hanya tangis kecilnya.
Tanganku meraih wajahnya, dengan hati-hati ku tatap matanya dan aku memegang muka yang penuh keluguan itu seraya membetulkan posisi jilbabnya yang sedikit miring.

“Bu Fida, apa Ais adalah anak yang bodoh, apa Ais anak nakal? Kenapa bundaku sering mengatakan kalau Ais anak yang nakal dan bodoh?”
Aku tersenyum.. ” Ais bukan anak nakal juga bukan anak bodoh, Ais anak sholihah dan anak cerdas.. dan Bu Fida yakin, Ais akan menjadi orang yang hebat.
“Benarkan itu Bu Guru?” tanya Ais dengan penuh semangat
“InsyaAllah” jawabku
“Asalkan Ais mau belajar giat mulai sekarang, dan mau berjanji dua hal pada bu guru”
“Apa Itu Bu”
“Ais harus berjanji agar senantiasa menjadi hamba Allah yang mencintai Allah dan Rasulullah, baik dalam keadaan senang maupun sedih.. terus berjanji agar Ais belajar menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.. Apa Ais bisa?
Dengan air muka bahagia Ais menjawab ” InsyaAllah Bu Guru”
Akupun mengantarkan Ais pulang kerumahnya.
Di sana seorang ibu muda cemas menunggu kedatangan buah hatinya, air mukanya menunjukkan penyesalan terhadap apa yang telah katakan kepada buah hatinya.
Di peluknya putri kecilnya tsb dan kemudian mengantarkanya ke kamarnya, sedang aku di persilahkan masuk ke rumahnya. Ibu muda tersebut, menceritakan banyak hal tentang putrinya dan kenapa dia sampai mengatakan putrinya bodoh dan nakal sehingga sikap Ais sering dianggapnya mengganggunya terlebih disela-sela kesibukkannya sebagai wanita karir.
“Ibu.. Di dunia ini tak ada namanya anak yang bodoh ataupun nakal” jawabku, “yang ada adalah anak yang belum di ketahui kemampuan untuk di asah lebih dalam. Bahkan kenakalan yang ibu katakan itu hanya sebuah kamuflase agar dia mendapatkan perhatian lebih dari Anda..”
“Memiliki kemampuan yang berbeda dari apa yang kita harapkan bukan berarti dia tidak berbakat, kita hanya membutuhkan kesabaran agar lebih pro aktif mencari dan menggali bakat terpendamnya, bukanlah sesuatu yang bijak bila kita memaksa kehendak kita karena belum tentu kebutuhan kalian sama.. Jadi tolong hargailah itu.”
Ibu muda tersebut terdiam..
“Sebaiknya apa yang harus saya lakukan untuk memperbaikinya”
“Banyaklah membaca karena bagaimanapun dunia kita dulu berbeda dengan kebutuhan si kecil karena kita hidup dengan rentang waktu yang beda. Jalinlah komunikasi yang efektif dengan si kecil supaya kalian bisa saling memahami kebutuhan dan harapan di antara kalian. Terakhir berdo’alah dan jemputlah pertolongan Allah.. insyaAllah semuanya menjadi lebih baik. Maaf bu, saya pamit dulu karena sudah sore..”

Selasa, 01 Januari 2013

Murabbi Bukan Biro Jodoh!!

“Akhwat fillah rahimakumullah, kita harus pahami bersama bahwa murabbi bukan biro jodoh”, tutur lembut murabbi dengan sedikit penekanan di akhir kalimat.
Saya mencoba menelisik sebab kalimat ini muncul. Bahkan hampir beberapa pertemuan halaqah bahasannya masih membahas yang begini-beginian.

Entah, hal ini menjamur sejak masa mana? Kader-kader di kampus seperti berlomba-lomba mencapai pelaminan. Yang pasti bagi yang memang sudah terlaksana sebuah jalan yang syar’i dan telah berlalu ijab qabul, “maka itu yang disebut dengan takdir”, ujar murabbiku lagi.
Nah tapi, fenomena yang kemudian muncul dewasa ini adalah banyak kader-kader “muda” yang justru terperdaya dengan “nasib” saudaranya.

Dirinya seperti tak rela jika ada saudara atau saudarinya yang melangsungkan pernikahan. Dia berpikir, “padahal umur si fulan dan fulanah notabene jauh di bawah dirinya”. Sehingga, muncul sosok-sosok kader “keder”. Sehingga, tidak sedikit muncul golongan kader galau karena “cinta”. Dulu lebih populer dengan istilah Virus Merah Jambu (VMJ). Di mana mulai dari warna rambut, warna hati, warna langit, warna mushaf, warna buku dalam pandangan kader semua berubah jadi pink. Melankolis. Itu ilusi. Itu khayal. Itu maya. Itu tipuan. Itu bisikan syaitan.
Sehingga, banyak bermunculan kader muntaber (mundur tanpa berita) karena proposal yang diajukan ke murabbi tak dapat di ACC. Sehingga, banyak kader keblinger dengan diam-diam menjalin hubungan tanpa status (HTS). Sehingga, lingkaran-lingkaran halaqah bolong-bolong karena kader akhwat berkelana mencari pangeran berkuda putih. Karena, banyak kader ikhwan yang “izin” dengan alasan berjuang mencarikan belahan sepatu kaca milik Cinderella.
Haaah, apa kata dunia? Hmmm, apa kata syaitan yang bergembira ria menyaksikan kebodohan umat manusia yang “sok, pahlawan” menerima penawaran dari Allah sebagai khalifah di muka bumi. Lalu, bagaimana dengan sorak sorai kaum Yahudi laknatullah yang takut dengan amalan yaumi kita. Tapi sekarang mereka menyadari bahwa umat Islam sudah kalah! Umat Islam perlahan tapi pasti mulai tergerus dengan pengaruh media yang menggejala.

Karena, sadarkah kita? Istilah galau! Ada sejak dulu, kosa kata itu bertapa di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sejak lama. Tapi kemudian ketika ia dikenalkan kepada khalayak oleh media. Maka, kata “galau” menjadi naik daun. Menjadi konsumsi harian setiap insan. Mereka kenyang dengan mengagung-agungkan kata “galau” tanpa tahu persis makna kata itu sendiri. Apa manfaat dari memaknai setiap sedikit saja keresahan yang muncul dalam diri dengan kata “galau”? Biar gaya? Biar kelihatan gaul? Biar tak tampak sebagai mahasiswa yang cupu, culun lagi kuper?

Dalam ilmu komunikasi, proses yang demikian disebut dengan teori kultivasi. Di mana media berusaha “mencekoki” khalayak secara terus menerus hingga tanpa sadar ia menerima sesuatu yang sesungguhnya bertentangan dengan dirinya.

Jika bisa dianalogikan seperti sebuah kutipan dalam film Sang Murabbi. Syaikhut Tarbiyah Rahmat Abdullah pernah mengungkapkan kurang lebih seperti ini redaksi katanya “Umat ini layaknya monyet yang berada pada sebuah pohon. Ketika berusaha menaiki pohon ia begitu bersemangat untuk mencapai puncak dengan terpaan angin yang besar sekalipun. Namun ketika mencapai puncak, terpaan angin mulai pelan dan pelan. Monyet pun mulai merasa nyaman dan terlena dengan angin pelan tersebut. Sampai akhirnya ia terjatuh dan menyia-nyiakan usahanya yang begitu besar tadi”.

Begitulah, karakteristik umat ini. Kita seringkali terlena dengan kemudahan. Kita kerap kali terhipnotis dengan kenyamanan. Kita bahkan lupa bahwa itu merupakan upaya menghancurkan kekokohan benteng kita.

Masya Allah, kita tengah masuk terlampau jauh dalam perangkap Yahudi. Media yang mereka buat “istimewa” untuk kita. Media yang dirancang menjadi “perangkap” yang mampu meredupkan cahaya iman kita. Media yang di satu sisi mampu juga membangkitkan gerakan kita. Tapi kita belum mau mengambil kesempatan itu. Kita masih saja nyaman dengan menjadi “juragan” yang bisanya cuma make. Padahal jika kita runut, umat kita memiliki potensi yang luar biasa!

Maka, terpaan badai ujian dan problematika umat tidak saja berasal dari eksternal saja. Tapi kemudian yang paling dikhawatirkan adalah guncangan kerusakan dari dalam, dari internal. Seperti yang pernah Rasulullah saw alami saat perang khandaq.
Maaf jadi membahas terkait media. Karena menurut saya, hal ini kemudian menjadi salah satu faktor yang menyebarkan virus terganas kepada umat. Walaupun bisa menjadi sebaliknya, ketika kita tahu ilmu dan cara efektif menggunakannya. Kita kembali ke…

***
“Anti lagi proses ya ukh”, canda salah seorang akhwat kepada sahabatnya. Ini murni bercanda.
Berawal dari candaan pendek tersebut seringkali obrolan dua atau beberapa akhwat maupun ikhwan menjadi melebar ngalor-ngidul. Nggak jelas juntrungannya.

Menurut salah seorang akhwat, aku bisa dibilang akhwat yang “aneh”. Karena jarang terlibat pembicaraan seperti gambaran di atas. Saat ada yang menggodaiku dengan celotehan “ukh, anti lagi proses ya”. Saya jawab dengan candaan, “iya, proses pertumbuhan”.

Bagi saya pribadi, tidak ada salahnya membahas masalah tersebut. Hanya saja ketika semakin lama bahasannya semakin ngaco bahkan melalaikan maka lebih baik ditinggalkan. Selain itu, saya merupakan orang yang orientatif target, orientatif prestatif. Banyak hal-hal yang saya alami dan dapatkan karena sinergitas antara target pribadi dengan keputusan Allah.
Maka yang saya pahami dari hal tersebut di atas juga berbicara masalah target. Bahwa “rizki, usia dan jodoh merupakan sesuatu yang misteri”, begitu ungkap murabbi.
Beliau juga memaparkan bahwa tidak sedikit kader yang “autis”. Mengikuti tarbiyah dengan tujuan mendapatkan yang tarbiyah lagi. Bahkan suatu kali ada yang terang-terangan keluar dari tarbiyah hanya gara-gara masalah ini. Pragmatis!

Saya memilih untuk slow motion but sure karena sesuatu akan datang indah pada waktunya. Saya juga sangat suka dengan ungkapan “bahwa Allah tidak akan pernah mempercepat atau memperlambat suatu keputusan. Semua telah diatur dengan sebaik-baiknya. Tinggal bagaimana kita melakukan yang terbaik untuk mendapatkan yang sebaik-baik yang telah Allah siapkan”.

Sayang, kalau masa produktif kita terperkosa oleh rasa “galau”. Lebar, kalau masa-masa prestatif kita dihantui dan dibayang-bayangi “galau” yang menyeramkan. Karena pada dasarnya hidup adalah pilihan. Pilihan-pilihan yang kemudian berada dihadapkan kepada kita adalah pilihan yang menggiurkan. Tapi jangan salah, bisa jadi Anda mendapatkan zong! Bila tidak cermat dalam memilih. Memilih membutuhkan pertimbangan agar hasil maksimal, tapi jangan karena waktu pertimbangan yang tidak efektif hingga kita sadar waktu memilih telah habis!
***
Daripada “galau” lebih baik kita bahas terkait hal-hal yang mampu menjadi solusi permasalahan ini (mengingatkan diri sendiri). Pertama, mari yakini bersama bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan sesuai dengan yang dilakukan hambaNya. Yuk, kita perbaiki diri untuk mendapat balasan yang terbaik pula dari-Nya.

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji. Sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia dari (surga)”. (An-Nur: 26)
Apa yang kita lakukan saat ini merupakan upaya mendapatkan tujuan kita.
Kedua, jika “galau” melanda maka, beristighfar dan coba berjalan lalu berlari sekencang-kencangnya menghampiri Sang Penyembuh “galau”.

“(Yaitu) orang-orang yang beriman hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Ar-Rad: 28)
Mencoba beradu padanya. Tak perlu kita pedulikan apa yang ada di luar diri kita. Karena pada dasarnya kita memiliki potensi untuk bertahan dan “membantah”. Kuncinya, mau!
Ketiga, selalu terngiang materi pada Stadium General Musyawarah Daerah (Musda FSLDK Bandung Raya). Pemateri said: “ada tiga hal yang mampu membangkitkan peradaban Islam secara keilmuan”. Membaca, menulis dan berkarya (beramal). Baca merupakan kunci utama kebangkitan umat.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha mulia. Yang Mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Al-‘Alaq: 1-5)

Sungguh dahsyat efek membaca! Bahkan itu anjuran Allah dari wahyu pertama yang diturunkan. Dengan membaca mampu membuka cakrawala dunia. Dengan membaca menyibak rahasia-rahasia yang tak terungkap. Dengan membaca kita tahu apa itu “galau”, apa gunanya dan cara mengatasinya?

Menulis, terinspirasi perkataan Ali Bin Abi Thalib “Ikatlah ilmu dengan menulis”. Menulis dan berkarya sungguh menjadi solusi mengisi waktu-waktu kita yang seringkali lengang. Dengan menulis kita mampu menambah khazanah pengetahuan untuk peradaban. Namun yang harus dipahami bersama bahwa membaca dan menulis ibarat keping mata uang yang tak terpisahkan. Antara satu sisi dengan sisi yang lain tak dapat berjalan sendiri. Ia adalah satu kesatuan.

Menulis tanpa membaca sama dengan buta.
Membaca tanpa menulis sama dengan pincang.
Maka keduanya harus bersinergi agar mendapatkan karya yang maksimal.
Jadi membahas panjang lebar. Yang pasti saling mengingatkan dan semangat berkarya! Untuk peradaban dengan menolak virus “galau” dan ingat, murabbi bukan biro jodoh!

Wallahua’alam bish shawab.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/12/26045/murabbi-bukan-biro-jodoh/#ixzz2GcXq85vc

Kamis, 27 Desember 2012

Merubah Mindset 'Frame Dakwah' | Kultwit @kang_nugo



Nugroho Adinegoro
@kang_nugo
| Media Communication Consultant
Bandung














PKS Cyber Army



" Bohong yg lantang akan mengalahkan jujur yang diam "




  1. Dlm dunia pemasaran ada namanya promosi. apakah itu dlm rangka nge-branding atau ngejar omzet produk (krn barang kita dibeli). #PKSalesForce

  2. Di era TI saat ini. promosinya dah lebih canggih lg yaitu menggunakan SocMed (Social Media) blasting sana-sini, broadcast kiri-kanan. #PKSalesForce

  3. Kadang barang yg ndak ada atau ndak jelas justru diada-adain & dijelas-jelasin dgn cara-cara keren.. share di facebook, tag foto produk. #PKSalesForce

  4. Tapi ada juga barangnya ada & jelas manfaatnya di promosiin dg 'anggaran belanja iklan' yg jor-joran.. gunain buzzer di SocMed. #PKSalesForce

  5. Emang ada produk yg ujug-ujug kita tau, kenal lantas kita beli padahal kita ndak tau namanya, bentuknya atau dimana jualnya? ndak deh.. #PKSalesForce

  6. Kita pasti tau dulu bentuknya, manfaatnya, harganya dan dimana belinya juga layanan produknya. #PKSalesForce

  7. Bahkan dari yg kita ndak tau & ndak butuh akhirnya karena gencarnya promosi kita jadi tau & mau krn tnyata kita butuh jg tu barang. #PKSalesForce

  8. Kalau kita 'sales' suatu produk yg 'bagus' lantas kita enggan masarinnya.. trus ngapain jadi sales? #PKSalesForce

  9. Kenapa anda ndak masarin produk ini? | ndak enak nanti org pd tau sy jualan produk ini | tp anda butuh omzet khan? | iya sih.. #PKSalesForce

  10. Saya ndak ngerti model pemasaran sales sperti ini.. ngejar omzet tapi malu/takut/segan nawarin produknya krn ndak enak sama orang. #PKSalesForce

  11. PKS ini produk. smua definisi ttg apa itu produk, melekat ke PKS & iapun punya sales, yaitu kader. #PKSalesForce

  12. Kita ndak akan ber 'tapi khan' ttg definisi produk tkait PKS karena ia ada, dapat dirasakan keberadaannya dan jelas bentuknya. #PKSalesForce

  13. Tapi kenapa produk ini kurang omzet pertumbuhan pemilihnya? apa yg penyebabnya? kita coba soroti dari promosinya ya..#PKSalesForce

  14. Ternyata masih ada stigma dikalangan sebagian sales (kader) yg jengah u/ memasarkan produk ini. Bahkan ndak sedikit yg 'ndak ikutan deh'. #PKSalesForce

  15. Mereka bersosialisasi dg lingkungannya tapi mereka cukup mau dikenal sbg kader aja tapi sedikit memasarkan produk yg dimilikinya. #PKSalesForce

  16. Saya khan ini, saya khan itu.. apa kata orang? gmn kalau sy dbilang partisan lantasan dijauhi teman, di unfollow, di un-friend? #PKSalesForce

  17. Sudah menjadi sunatullah ketika risalah ini dibawa oleh para nabi & pengikutnya slalu diuji dg cacian, cemoohan, dikucilkan bahkan diintimidasi. #PKSalesForce

  18. Mereka teramat yakin dg risalah yg meraka bawa. Ujian, cacian, cemoohan mereka jadikan bagian dalam memantaskan diri sebagai seorang mukmin. #PKSalesForce

  19. Yg PKS bawa adalah risalah keummatan u/ menjadi bagian dlm pembangun peradaban dunia. Risalah inilah yg menjadi product knowledge. #PKSalesForce

  20. Bagaimana bisa kita menebarkan risalah ini bersama PKS jika kita blm tau product knowledge nya? #PKSalesForce

  21. Paling banter yg kita dapati adalah disindir, di unfollow atau di un friend.. setelah itu kita bikin aja lagi & add mrk smua ;o) #PKSalesForce

  22. Kita ndak ditimpukin pake batu. Diri kita & keluarga juga ndak diancam keselamatannya.. trus so what? #PKSalesForce

  23. Aktif di dunia maya dg socmed nya saat ini menjadi alternatif u/ para kader 'pemasarkan' PKS. #PKSalesForce

  24. Bermodal gadget, pulsa dan sedikit olahraga jari jemari diatas keypad, kerja u/ memasarkan ni barang bisa dlakukan. #PKSalesForce

  25. "Biarlah orang tau siapa kita tapi kita ndak usah sebar sana-sini PKS" begitu kata seorang kader.. laaaaah? #PKSalesForce

  26. "Yg tau antum aja ndak milih apa yg antum pilih, apalagi yg ndak tau apa itu pilihan antum"

  27. Hari ini (seharusnya) stigma itu harus sudah bisa diubah. Kita harus memberanikan diri u/ menjadi bagian dari #PKSalesForce dg menjadi #aktiviSocmed.

  28. Kita 'cukup' tekan fitur RT, share & tag smua kiprah PKS yg diberitakan dari pelosok negeri. #PKSalesForce

  29. Penuhi server google, twitter, facebook, blogspot dg keyword #PKS sehingga ia mjd trending topic. #PKSalesForce

  30. Seorang kader ndeso aja bisa mengganggu rasa ingin tahu antum ttg 'ada kabar apa PKS hari ini' apalagi org dluar antum.. #PKSalesForce

  31. Saking ndesonya, ia mengabarkan 'segalanya' yg terkait dg dakwah & dunia islam.. *ehem #PKSalesForce

  32. Gunakan stiap rupiah yg kita keluarkn u/ pulsa & akses internet u/ bangga dg risalah yg kita bawa ini & sebarkan ke pelosok negeri. #PKSalesForce

  33. Pencitraan itu bukan takut disebut kader PKS tapi pencitraan diri ini akan terlebur dlm citra PKS yg kita sebarkan. #PKSalesForce

  34. Secara bersamaan kita akan memperbaiki citra diri kita ngimbangin dg citra PKS dan risalah yg dibawanya. #PKSalesForce

  35. Mampirlah ke forum-forum online.. coba liat bagaimana mrk membully PKS dsana.. slalu dg thread yg byk komennya tp isinya cacian. #PKSalesForce

  36. Kebencian yg mereka sebar dg kebohongan & fitnah-fitnah itu lama-lama akan jadi pembenaran & mbentuk opini.. lalu kita diam? #PKSalesForce

  37. Kebencian mrk ada krn opini yg terbentuk mjd sikap lantas mereka umbar dan umbar.. lalu kita asyik dg 'diam' lalu hahahehe.. #PKSalesForce

  38. Segera ambil peran #PKSalesForce dg aktif mjd #aktiviSocmed meneruskan berita-berita positif PKS ke pelosok jagad maya.

  39. Internet ini menembus ruang & waktu.. begitu juga dakwah ini pun harus bisa menembus ruang & waktu.. ndak ada kata 'entaran deh'. #PKSalesForce

  40. Undang kader yg klotokan sbg #aktiviSocmed di forum-forum temu kader atau rapat-rapat struktur, ada @pkspiyungan & @PKSJaktim yg siap datang.

  41. Dimana pun peran kita sbg #aktiviSocmed u/ PKS insya'allah akan berdampak positif, tentu dg koridor yg jelas. #PKSalesForce

  42. Smg Allah memilih kita krn kita pantas u/ dimenangkan krn kita BANGGA dg risalah yg kita bw bsama PKS. #PKSalesForce   


dari akh ferryardian @ferryardian front end web dev | juru foto